Jumat, 03 Maret 2017

SEJARAH LASEM

  1. LASEM JAMAN MAJAPAHIT
    tahun Śaka 1273 (1351 M) yang menjadi penguasa Lasem adalah Ratu Dewi Indu (BHRE LASEM), adik sepupu Prabu Hayam Wuruk yang sedang berkuasa di Wilwatikta (Majapahit). Dewi Indu bersuamikan Pangeran Rajasawardana (BHRE MATAHUN) yang menjadi dhang puhawang Wilwatikta, berkuasa atas jung-jung perang Wilwatikta di pelabuhan Kaeringan dan pelabuhan Regol di Lasem. Tokoh ini juga merangkap menjadi adipati di wilayah Matahun, demikian tutur Kitab Carita Sejarah Lasem (CSL).
    Piagam Singosari tahun 1351 M :
    1. Kerajaan Daha Kediri dipimpin oleh Bhre Daha
    2. Kerajaan Wengker dipimpin oleh Raja Wijaya Rajasa
    3. Kerajaan Mataun dipimpin oleh Raja Rajasa Wardana
    4. Kerajaan Lasem dipimpin oleh Bhre Lasem yaitu Duhitendu Dewi (Dewi Indu)
    5. Kerajaan Pajang dipimpin Bhre Pajang
    6. Kerajaan Paguhan dipimpin oleh Raja Singa wardhana
    7. Kerajaan Kahuripan dipimpin oleh Tribuana Tungga Dewi
    8. Kerajaan Singasari dipimpin oleh Kerta Wardhana
    9. Kerajaan Mataram dipimpin oleh Bhre Mataram yaitu Wikrama Wardhana
    10. Kerajaan wirabhumi dipimpin oleh Bhre wirabhumi
    11. Kerajaan Pawanukan dipimpin oleh Putri Swardhani dari nama2 pemimpin itu, ada 8 termasuk sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Majapahit :
    1. Sang Prabu Hayam Wuruk sebagai ketua
    2. Tribhuana Tunggadewi
    3. Sri Kerta Wardhana
    4. Sri Wijaya Rajasa
    5. Bhre Lasem Duhitendu Dewi
    6. Sri Rajasa Wardhana
    7. Bhre Pajang
    8. Dyah Wiyat Sri Rajadewi
    9. Singa Wardhana
    (dalam Buku Lasem Negeri Dampoawang yang terlupakan)
    ini membuktikan bahwa Lasem era Majaphit sangatlah Penting, apalagi dengan pernikahan Bhre Lasem Duhitendu Dewi (Dewi Indu) menikah dengan Raja Rajasa Wardhana dari Kerajaan Mataun, seakan akan Lasem & matahun bergabung. yang dimana suaminya Rajasa Wardhana adalah seorang Petinggi Angkatan Laut (dampoawang) Majapahit yang berpangkalan di pelabuhan Lasem yaitu di Teluk Regol (bonang-Binangun) & Kaeringian (pantai kiringan-caruban gedong mulyo), sedangkan Bhre Lasem sendiri dipercaya sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Pusat Majapahit.
    mereka mempunyai anak keturunan yaitu Pangeran Badrawardhana, yang kemudian berputra Pangeran Wijayabadra, lalu Wijayabadra menurunkan Pangeran Badranala. Tokoh itu kemudian kawin dengan Putri asal Campa bernama Bi Nang Ti,dari perkawinan tersebut lahirlah dua putra, yaitu Pangeran Wirabajra dan Santibadra, sepeninggal Badranala yang menggantikan sebagai penguasa daerah Lasem adalah Pengeran Wirabajra (CSL: 12). Sementara Pangeran Santibadra pergi ke Majapahit, ia menyaksikan jatuhnya kota Majapahit ke tangan tentara Kadiri yang dipimpin oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.

  1. Lasem pada masa Penyebaran Agama Islam.
    Islam mulai masuk di Lasem selain pengaruh dari walisongo, juga bisa dikatakan dari salah satu Kedatangan orang Cina pertama di Lasem tercatat pada abad XV bernama Bi Nang Un. Ia adalah seorang Cina muslim beraliran Hanafi, utusan dinasti Ming yang berasal dari wilayah Yunan, yang kemungkinan itu adalah salah satu dari rombongan Laksmana Cheng Ho yang menetap di Lasem. Bi Nang Un Ialah pelopor pendirian pemukiman china di Lasem. Baru setelah itu masuklah orang-orang Hokkian yang menganut agama Kong Hu Cu berdatangan ke Lasem.
    Selain dari sudut pandang itu, saat itu Lasem dipimpin oleh Adipati Wirabraja yang kemudian mempunyai putra Pangeran Wiranagara. Pangeran Wiranagara semenjak kecil telah dikirim ayahnya Pangeran Wirabraja belajar agama islam kepada Sunan Ampel,dan disanalah Pangeran Wiranagara dijodohkan Sunan Ampel dengan putrinya yang bernama Nyi Ageng Malokhah (kakak Sunan Bonang). Wiranegara kembali ke Kadipaten Binangun bersama Nyi Ageng Malokhah, namun usia Pangeran Wiranagara tak berlangsung lama memimpin Kadipaten, hanya berlangsung 5 tahun karena Pangeran Wiranagara meninggal dunia di tahun 1401. dan pada tahun 1402 Nyi Ageng Malokhah memindahkan Kadipaten ke Lasem di bumi colegawan (skrg cologowok soditan) persis didepan rumahnya Pangeran Santipuspa (sdra sepupu wiranagara). Nyi Ageng Malokhah mempunyai putri bernama Solikhah yang kemudian dinikahi Arya Jin BUn (Raden Patah) yaitu raja pertama Kerajaan Demak. kadipaten di Bonang Binangun ditempati oleh adiknya Nyi Ageng Malokhah yang bernama Kanjeng Sunan Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), yang beliu diangkat ayahnya Kanjeng Sunan Ampel sebagai walinagara pada usia 30 Tahun, yang bertugas menyebarkan agama islam di daerah Lasem, Tuban dan sekitarnya yang bertempat tinggal di Bonang sehingga bergelar Kanjeng Sunan Bonang. (CSL : 13)
    selain Sunan Bonang, masih ada lagi yaitu Pangeran Santikusuma, Pangeran Santikusuma adalah putra terakhir (ke 10)dari Santribadra yang merupakan keturunan trah Majapahit. yang sejak kecil beliu telahditinggal ayahnya ke majapahit dan ibunya telah meninggal sejak usia 2 tahun. Pangeran Santikusuma sering diajak kakaknya Pangeran Santipuspa ke eyangnya Adipati Tuban (Sunan Bejagung), dan di usianya yang beranjak 19 tahun beliu belajar agama islam kepada Sunan Bejagung (kakeknya) dan juga Sunan Bonang. dari kakeknya lah Pangeran Santikusuma mendapatkan nama Islam yaitu Raden Mas Said atau biasa dikenal Sunan Kalijaga. dan R.M. Said Santikusuma (Sunan Kalijaga) merupakan salah satu walisongo yang menerapkan penyebaran agama Islam melalui penyesuaian lingkungan dan Kebudayaan yang ada di daerah setempat itu karena kepandaiannya kanjeng Sunan Raden Mas Said (Sunan Kalijaga) untuk mengajak para kaum kejawen. (CSL: 14-15) Hubungan Lasem dengan kerajaan Demak
    pendiri kerajaan demak, dari hubungan kekeluargaan dengan Lasem. yaitu Raden Fatah adalah menantu dari Adipati Wiranegara (Adipati Lasem) & Nyi Ageng Maloka, yang Raden Fatah dinikahkan dengan Putrinya yaitu Solekah, setelah Adipati Wiranegara & Nyi Ageng Maloka wafat, pemerintahan Lasem dipegang oleh Pangeran Santipuspa. Saat jaman Demak ini, Kadipaten Lasem diperintah oleh Wiranegara yang tak lain adalah menantu sunan ampel dan juga mertua Raden Fatah , yang dimana pada saat itu Lasem sudah islam terlebih dahulu daripada Demak,jadi tak ada alasan apapun yg dibenarkan jika Demak menguasai daerah yang lebih islam terlebih dahulu. Lasem – Demak – Tuban mempunyai kecenderungan menjalin hubungan persekutuan untuk menopang kekuatan Kerajaan.setelah WIranegara meninggal Lasem dipegang oleh sepupunya yaitu Raden Santipuspa, selain dari sudut kekeluargaan bukti jika Lasem juga menopang kekuatan Kerajaan demak yaitu Adik Adipati Lasem PAngeran Santipuspa yaitu Santikusuma atau biasa dikenal Sunan Kalijaga/Raden Said menjadi Dewan Pertimbangan Agung di Kerajaan Demak,yang disegani sebagai Ulama yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan Agama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar