SEJARAH LASEM
LASEM JAMAN MAJAPAHIT
tahun Śaka 1273 (1351 M) yang menjadi penguasa Lasem adalah Ratu Dewi
Indu (BHRE LASEM), adik sepupu Prabu Hayam Wuruk yang sedang berkuasa di
Wilwatikta (Majapahit). Dewi Indu bersuamikan Pangeran Rajasawardana
(BHRE MATAHUN) yang menjadi dhang puhawang Wilwatikta, berkuasa atas
jung-jung perang Wilwatikta di pelabuhan Kaeringan dan pelabuhan Regol
di Lasem. Tokoh ini juga merangkap menjadi adipati di wilayah Matahun,
demikian tutur Kitab Carita Sejarah Lasem (CSL).
Piagam Singosari tahun 1351 M :
1. Kerajaan Daha Kediri dipimpin oleh Bhre Daha
2. Kerajaan Wengker dipimpin oleh Raja Wijaya Rajasa
3. Kerajaan Mataun dipimpin oleh Raja Rajasa Wardana
4. Kerajaan Lasem dipimpin oleh Bhre Lasem yaitu Duhitendu Dewi (Dewi Indu)
5. Kerajaan Pajang dipimpin Bhre Pajang
6. Kerajaan Paguhan dipimpin oleh Raja Singa wardhana
7. Kerajaan Kahuripan dipimpin oleh Tribuana Tungga Dewi
8. Kerajaan Singasari dipimpin oleh Kerta Wardhana
9. Kerajaan Mataram dipimpin oleh Bhre Mataram yaitu Wikrama Wardhana
10. Kerajaan wirabhumi dipimpin oleh Bhre wirabhumi
11. Kerajaan Pawanukan dipimpin oleh Putri Swardhani
dari nama2 pemimpin itu, ada 8 termasuk sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Majapahit :
1. Sang Prabu Hayam Wuruk sebagai ketua
2. Tribhuana Tunggadewi
3. Sri Kerta Wardhana
4. Sri Wijaya Rajasa
5. Bhre Lasem Duhitendu Dewi
6. Sri Rajasa Wardhana
7. Bhre Pajang
8. Dyah Wiyat Sri Rajadewi
9. Singa Wardhana
(dalam Buku Lasem Negeri Dampoawang yang terlupakan)
ini membuktikan bahwa Lasem era Majaphit sangatlah Penting, apalagi
dengan pernikahan Bhre Lasem Duhitendu Dewi (Dewi Indu) menikah dengan
Raja Rajasa Wardhana dari Kerajaan Mataun, seakan akan Lasem &
matahun bergabung. yang dimana suaminya Rajasa Wardhana adalah seorang
Petinggi Angkatan Laut (dampoawang) Majapahit yang berpangkalan di
pelabuhan Lasem yaitu di Teluk Regol (bonang-Binangun) & Kaeringian
(pantai kiringan-caruban gedong mulyo), sedangkan Bhre Lasem sendiri
dipercaya sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Pusat Majapahit.
mereka mempunyai anak keturunan yaitu Pangeran Badrawardhana, yang
kemudian berputra Pangeran Wijayabadra, lalu Wijayabadra menurunkan
Pangeran Badranala. Tokoh itu kemudian kawin dengan Putri asal Campa
bernama Bi Nang Ti,dari perkawinan tersebut lahirlah dua putra, yaitu
Pangeran Wirabajra dan Santibadra, sepeninggal Badranala yang
menggantikan sebagai penguasa daerah Lasem adalah Pengeran Wirabajra
(CSL: 12). Sementara Pangeran Santibadra pergi ke Majapahit, ia
menyaksikan jatuhnya kota Majapahit ke tangan tentara Kadiri yang
dipimpin oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.
Lasem pada masa Penyebaran Agama Islam.
Islam mulai masuk di Lasem selain pengaruh dari walisongo, juga bisa
dikatakan dari salah satu Kedatangan orang Cina pertama di Lasem
tercatat pada abad XV bernama Bi Nang Un. Ia adalah seorang Cina muslim
beraliran Hanafi, utusan dinasti Ming yang berasal dari wilayah Yunan,
yang kemungkinan itu adalah salah satu dari rombongan Laksmana Cheng Ho
yang menetap di Lasem. Bi Nang Un Ialah pelopor pendirian pemukiman
china di Lasem. Baru setelah itu masuklah orang-orang Hokkian yang
menganut agama Kong Hu Cu berdatangan ke Lasem.
Selain dari sudut pandang itu, saat itu Lasem dipimpin oleh Adipati
Wirabraja yang kemudian mempunyai putra Pangeran Wiranagara. Pangeran
Wiranagara semenjak kecil telah dikirim ayahnya Pangeran Wirabraja
belajar agama islam kepada Sunan Ampel,dan disanalah Pangeran Wiranagara
dijodohkan Sunan Ampel dengan putrinya yang bernama Nyi Ageng Malokhah
(kakak Sunan Bonang). Wiranegara kembali ke Kadipaten Binangun bersama
Nyi Ageng Malokhah, namun usia Pangeran Wiranagara tak berlangsung lama
memimpin Kadipaten, hanya berlangsung 5 tahun karena Pangeran Wiranagara
meninggal dunia di tahun 1401. dan pada tahun 1402 Nyi Ageng Malokhah
memindahkan Kadipaten ke Lasem di bumi colegawan (skrg cologowok
soditan) persis didepan rumahnya Pangeran Santipuspa (sdra sepupu
wiranagara). Nyi Ageng Malokhah mempunyai putri bernama Solikhah yang
kemudian dinikahi Arya Jin BUn (Raden Patah) yaitu raja pertama Kerajaan
Demak. kadipaten di Bonang Binangun ditempati oleh adiknya Nyi Ageng
Malokhah yang bernama Kanjeng Sunan Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), yang
beliu diangkat ayahnya Kanjeng Sunan Ampel sebagai walinagara pada usia
30 Tahun, yang bertugas menyebarkan agama islam di daerah Lasem, Tuban
dan sekitarnya yang bertempat tinggal di Bonang sehingga bergelar
Kanjeng Sunan Bonang. (CSL : 13)
selain Sunan Bonang, masih ada lagi yaitu Pangeran Santikusuma, Pangeran
Santikusuma adalah putra terakhir (ke 10)dari Santribadra yang
merupakan keturunan trah Majapahit. yang sejak kecil beliu
telahditinggal ayahnya ke majapahit dan ibunya telah meninggal sejak
usia 2 tahun. Pangeran Santikusuma sering diajak kakaknya Pangeran
Santipuspa ke eyangnya Adipati Tuban (Sunan Bejagung), dan di usianya
yang beranjak 19 tahun beliu belajar agama islam kepada Sunan Bejagung
(kakeknya) dan juga Sunan Bonang. dari kakeknya lah Pangeran Santikusuma
mendapatkan nama Islam yaitu Raden Mas Said atau biasa dikenal Sunan
Kalijaga. dan R.M. Said Santikusuma (Sunan Kalijaga) merupakan salah
satu walisongo yang menerapkan penyebaran agama Islam melalui
penyesuaian lingkungan dan Kebudayaan yang ada di daerah setempat itu
karena kepandaiannya kanjeng Sunan Raden Mas Said (Sunan Kalijaga) untuk
mengajak para kaum kejawen. (CSL: 14-15)
Hubungan Lasem dengan kerajaan Demak
pendiri kerajaan demak, dari hubungan kekeluargaan dengan Lasem. yaitu
Raden Fatah adalah menantu dari Adipati Wiranegara (Adipati Lasem) &
Nyi Ageng Maloka, yang Raden Fatah dinikahkan dengan Putrinya yaitu
Solekah, setelah Adipati Wiranegara & Nyi Ageng Maloka wafat,
pemerintahan Lasem dipegang oleh Pangeran Santipuspa. Saat jaman Demak
ini, Kadipaten Lasem diperintah oleh Wiranegara yang tak lain adalah
menantu sunan ampel dan juga mertua Raden Fatah , yang dimana pada saat
itu Lasem sudah islam terlebih dahulu daripada Demak,jadi tak ada alasan
apapun yg dibenarkan jika Demak menguasai daerah yang lebih islam
terlebih dahulu. Lasem – Demak – Tuban mempunyai kecenderungan menjalin
hubungan persekutuan untuk menopang kekuatan Kerajaan.setelah WIranegara
meninggal Lasem dipegang oleh sepupunya yaitu Raden Santipuspa, selain
dari sudut kekeluargaan bukti jika Lasem juga menopang kekuatan Kerajaan
demak yaitu Adik Adipati Lasem PAngeran Santipuspa yaitu Santikusuma
atau biasa dikenal Sunan Kalijaga/Raden Said menjadi Dewan Pertimbangan
Agung di Kerajaan Demak,yang disegani sebagai Ulama yang mempunyai
pengaruh besar dalam perkembangan Agama Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar